Praktek Copywriting dengan Teknik AIDA

Praktek Copywriting dengan AIDA Teknik
Copywriting by Indotops.com
Copywriting adalah sebuah skill, bukan hanya teori. Bagaimana cara mendapatkan sebuah skill?. Harus berbakat?.

Bakat itu lebih murah dari garam dapur. Yang memisahkan antara orang yang berbakat dengan orang yang sukses adalah kerja kerasnya
-Stephen King

Jadi, tak ada manusia yang lahir dengan bakat copywriting. Yang membedakan kita dengan para ahli copywriting hanyalah: kerja kerasnya.

Duh, males deh kalo harus kerja keras.

Eits kalem dulu sob, kerja keras gak seburuk itu kok.

Dan gak sesusah itu.

Apalagi, kalo yang kita kerjakan itu kita sukai. Hobi misalanya.

Saya gak hobi nulis bos, saya cuma hobi jualan.

Naah kalo gitu, anda sangat berpotensi menguasai copywriting. Karena copywriting bukan menulis biasa. Copywriting adalah menulis untuk menjual.

Jadi ikut kan?.

Cermati artikel sebelumnya jika masih ada ragu pada Copywriting.

Atau dasarnya, jika masih merasa perlu meraba-raba.

Kalau sudah siap, kita langsung aja ke TKP.

Jika bicara teknik, ada banyak sekali teknik. Begitu juga jika bicara prinsip, ada banyak sekali prinsip. Tapi jika bicara praktek, hanya ada satu frasa saja: Lakukan Lagi.

Nah, mari kita dalami teknik copywriting bernama AIDA. Teknik dahsyat yang telah dibuktikan bertahun-tahun.
Praktek Copywriting dengan AIDA Teknik 2

Ingat, dalam praktek hanya ada satu frasa: Lakukan Lagi.

1. Oke langsung saja pada huruf A.

Attention

Attention artinya perhatian.

Menurut anda, kapan seseorang mulai memutuskan untuk membeli? Tentu saja ketika dia mulai memperhatikan. Tak ada manusia yang membeli sesuatu tanpa memperhatikannya terlebih dahulu. Bahkan pada barang yang setiap hari dia beli.

Maka, melihat dari sifat manusia ini, sangat penting, bagi copywriter, membuka tulisannya dengan mengolah kata yang membuat orang lain memperhatikan.

Kita lihat di pasar nyata, karena harus kita ingat, copywriter yang baik menulis seperti cara dia berbicara.

Anda tahu, penjual baju yang menyapa saat pembeli lewat: "Cari baju apa Kak?" atau "Mau model apa kak celana jeansnya?" mendapat pembeli lebih banyak daripada penjual baju yang hanya duduk menunggu.

Mengapa bisa begitu?.

Sederhana, karena, penjual baju pertama mendapatkan lebih banyak perhatian.

Itulah mengapa Attention ada dalam fokus pertama kita. Ikat perhatian pembeli!

Bagaimana cara mengaplikasikan ini kedalam bentuk tulisan?.

Ada satu cara yang sangat umum memicu perhatian manusia: Pertanyaan.

Lihat kalimat di atas. Sapaan itu berisi pertanyaan yang memicu perhatian. Sehingga membuat pembeli berfikir mungkin di toko inilah pakaian yang dia cari. Lalu, pembeli pun akan mulai melihat-lihat barang kita.

Jadi, jangan tunggu lagi. Beri pembeli pertanyaan yang akan mengarahkan dia membeli produk kita.

Tuliskan.

Seperti apa kriteria pertanyaan yang baik?
Seperti bertanya biasa.
Semudah itukah?.

Yap, seperti itulah. Ditambah, dua resep di bawah ini.

1. Gunakan tanda tanya dan tanda baca yang benar.

Dalam percakapan nyata, pertanyaan memiliki nada yang berbeda, yang membuatnya berbeda dari pernyataan. Perbedaan nada itulah yang membuat pertanyaan menarik perhatian.

Nah dalam tulisan, tak ada nada, yang ada adalah tanda baca dan tanda tanya. Tanda baca itulah yang harus kita maksimalkan demi membentuk pertanyaan yang menarik perhatian.

2. Keep it short. Gak usah panjang-panjang.

Ingat! Kalimat atau paragraf yang terlalu panjang membuat pembaca malas melanjutkan membaca

Intinya, jangan bertele-tele. Strike forward! Langsung ke inti pertanyaan.

3. Beri alasan untuk memperhatikan. Alasan secara emosional.

Mengapa harus alasan secara emosional?. Karena ingat, membeli sesuatu adalah produk emosional manusia. Manusia membeli sesuatu karena alasan emosional.

Contohnya seperti kalimat di bawah ini:
Lelah dengan jerawat?
Telah mencoba berbagai cream namun belum juga tuntas?.

2. Kini Saatnya Huruf I.

I untuk Interest, artinya Ketertarikan.

Ini fase yang penting. Setelah membuat pembeli singgah ke toko, si penjual tadi akan menjelaskan pakaian terbaiknya dan apa yang membuat pakaian itu menarik.

"Lagi musim model ini, Kak". Kata dia, atau: "Ini bahannya bagus, gak panas kalo dipake".

That's strike!. Pembeli akan semakin tertarik dan mulai menimbang-nimbang. Apakah saya perlu membeli baju ini?.

Begitu pula dalam tulisan kita. Setelah membuatnya memperhatikan tulisan kita, jangan kecewakan dia dengan lanjutan paragraf yang tak menarik. Buat dia tertarik!.

Bagaimana cara membuat dia tertarik?.

Sederhana, beri tahu dia keunggulan produk kita.

Secara psikologis, sebisa mungkin manusia menginginkan produk dengan kualitas nomor satu. Tak ada tempat untuk nomor setelahnya.

Maka, susun kalimat keunggulan produk yang benar-benar menarik. Katakan bahwa produk ini terbaik. Dibuat dengan bahan terbaik.

Juga jangan lupa, beri tahu pembeli apa benefit yang produk kita berikan. Hal ini sangat esensial. Dan bisa 50% memberi pembeli alasan untuk membeli produk kita

Tentu saja, manusia selalu tertarik dengan yang namanya keuntungan, alias benefit.

Tapi ingat, tetaplah dalam kaidah kejujuran. Karena melebih-lebihkan bisa berdampak buruk. Seperti pembeli menjadi kapok atau yang paling kita hindari, menyampaikan testimoni atau penilaian yang buruk kepada orang lain.

Jadi, seperti apa paragraf Interest yang baik?

1. Lagi, keep it simple. Jangan bertele-tele.

Pembeli tak mau membaca paragraf yang terlalu panjang.

2. Jika memungkinkan, buat dalam bentuk poin-poin saja.

Selain terlihat lebih rapi, poin-poin memberikan kesan simpel, yang adalah aturan kita yang pertama.

3. Sertakan data pendukung. Data membuat produk kita terlihat profesional.


Next.....

3. D untuk Desire.

Kebutuhan.

Asumsikan bahwa kita telah berhasil memicu perhatian pembeli dan membuatnya begitu tertarik. Ternyata, tiba-tiba, dalam pertimbangam terakhir si pembeli dia memutuskan untuk tak jadi membeli.

Waduh, nyesek ya.

Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?.
Bisa, dan sering, kawanku.

Maka untuk mensiasati kemungkinan buruk ini, biar gak nyesek, kita memerlukan paragraf D. D untuk Desire. Kebutuhan.

Hal di atas, sangat mungkin terjadi karena hal ini: Faktor Kebutuhan. Sangat mungkin, meski produk kita sangat menarik, pembeli tak menemukan alasan dia membutuhkan barang kita.

Maka si penjual yang tadi, sebelum si pembeli berhenti melihat-lihat barang dan pergi, dia berkata:
"Ini cocok buat jalan-jalan kak. Ada juga baju santai ala pantai, pas buat pelesiran".

Dan binggo!. Si pembeli tiba-tiba punya alasan membutuhkan pakaian itu.

Tentu saja soal kebutuhan adalah hal yang berbeda bagi setiap manusia. Tapi, dengan alur Attention dan Interest dilengkapi Desire yang sedang kita pelajari ini, sangat besar kemungkinan kita berhasil menambahkan produk kita ke dalam kategori kebutuhan pembeli.

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa membuat paragraf yang membantu pembeli menemukan alasan dia membutuhkan produk kita?.

Keep it simple. Ada banyak cara sebenarnya, tapi mari kita buat sederhana.

Sebelumnya, kita sisir dulu alasan mengapa manusia membutuhkan sesuatu.

Bisa karena dia harus menyelesaikan suatu masalah, tak punya baju ke pantai misalnya, atau jerawat yang mengganggu.

Nah, coba analisis mengapa pembeli membutuhkan produk kita. Lalu, ingatkan dia tentang betapa pasnya produk kita untuk menyelesaikan masalahnya.

Testimoni orang lain, bisa menjadi alasan besar pembeli mempercayakan masalahnya pada produk kita. Memberinya alasan membutuhkan.

Lalu step terakhir:

4. A terakhir untuk Action!

Nah yang ini yang paling mudah tapi esensial.
Action untuk Tindakan.

Sudah susah payah membuat pembeli ingin membeli, eh lupa ngasih cara beli, ya percuma.

Setelah pembeli akhirnya deal, beri tahu mereka cara bertindak selanjutnya. Saatnya bertransaksi!.

Tulis cara pembeli untuk membeli produk kita. Nah, di sini sekali lagi: Keep it simple.

Beri pembeli variasi dalam membeli.

Bisa lewat Web, Whatsapp, Instagram, Aplikasi, dan varian lain. Hal ini sangat penting, demi itu tadi: Keep it simple.

Karena, bisa saja ada pembeli yang malas menggunakan Web, lebih senang lewat Whatsapp. Dengan memberi banyak variasi dalam membeli, kita akan bisa menjangkau lebih banyak pembeli.

Yang ke dua, sediakan variasi pengiriman.

Nah ini namanya nilai tambah yang tak terlihat. Kadang, ada pembeli yang tak mau lama. Maka, dia akan menghitung sendiri seberapa cepat barang akan sampai.

Bagaimana cara dia menghitung?. Mudah sekali, dengan menghitung kantor jasa pengiriman apa yang paling dekat dari rumahnya. Kemungkinan besar, jasa pengiriman itulah yang akan dia pilih.

Maka jangan lupa: Sediakan variasi ini.

Ketiga, variasi pembayaran.

Dengan kemajuan Fintech yang dahsyat, pembayaran menjadi banyak pilihan. Dan pembeli, punya pilihannya sendiri.

Ada yang suka transfer saja, ada yang suka COD, ada juga yang terbiasa membayar di payment point sambil belanja, macam di Alfamart dan Indomart.

Lho, itu kan masalah kebijakan management bos, bukan kebijakan Copywriter.

Betul sekali. Tapi, sengaja saya paparkan bagi saudaraku yang skill copywriting nya untuk jualan pribadi. Biar dapat tambahan kemudahan.

Oke deh bos, buat copywriter gimana dong?.

1. Beri management masukan soal 3 variasi tadi, karena akan menambah nilai efek Copywriting kita.

2. Buat kalimat tindakan yang persuasif, bersifat ajakan.


Nah, ini yang khas copywriter. Sampai ke cara membeli pun, dibikin keren.

Itu dia teknik kita, teknik AIDA
Attention
Interest
Desire
Action

Ingat!
dalam praktek hanya ada satu frasa: Lakukan Lagi.

Eh tunggu dulu, apa itu kalimat yang persuasif?.
Mengajak. Ya, itu saja.
Bagimana cara membuatnya? Ya, itulah, tema untuk Indotops berikutnya.

Author

basic of thing basic of thing Fiksioner is a free template that suitable for personal blogging because the layout is like a journal.

1 comment

Post a Comment